Friday, May 1, 2015





  • Sekretaris Jendral Konfederasi Serikat Buruh Dunia Hadiri May Day di Jakarta

         


 Sekretaris Jenderal Konfederasi Serikat Buruh Internasional Sharan Burrow akan menghadiri perayaan Hari Buruh Internasional atau May Day Jumat (1/5) di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Ia dijadwalkan memberikan pidato peringatan May Day di depan ribuan buruh yang hadir.
"It's not hard to stand up for people"

Kata-kata tersebut yang disampaikan oleh Sharan Burrow, wanita asal Australia yang saat ini menjadi pimpinan buruh internasional. Menurutnya tidak sulit untuk berjuang bagi orang lain. Hal tersebut bukan hanya menjadi sebuah ucapan bagi perempuan berumur 61 tahun ini. Sharan telah melakukan banyak hal untuk memperjuangkan kesejahteraan para buruh di banyak negara.

Sekretaris Jenderal International Trade Union Confederation (ITUC) hadir di Indonesia untuk mendukung acara May Day hari Jumat (1/5). Kehadirannya bukan tanpa tujuan. Ia datang untuk menyuarakan perubahan untuk kesejahteraan para buruh. Salah satunya adalah sistem kerjaoutsourcing di Indonesia.

"Outsourcing adalah salah satu bentuk eksploitasi bagi para tenaga kerja," ujar Sharan saat berbincang dengan CNN Indonesia.


Berbicara mengenai buruh, Sharon berdiri di jajaran paling depan, terutama bagi para buruh yang bekerja di pabrik, call centers dan lokasi konstruksi bangunan. "Mereka dieksploitasi secara tersembunyi," katanya. 

Sharron tak lupa untuk memberikan perhatian secara khusus bagi para buruh perempuan. Ia mendengar dan melihat banyaknya perlakuan buruk yang diterima oleh para buruh perempuan Indonesia, mulai dari dipaksakannya lembur bagi perempuan yang telah berkeluarga, tingginya pajak yang diberikan hingga kasus pemukulan, penganiayaan dan pelecehan seksual. 

"Tapi tidak ada yang mau bersuara bagi mereka," kata Sharan. 

Oleh sebab itu, Ia mengungkapkan rencana kampanye untuk menghentikan keserakahan perusahaan atau korporasi bahkan yang level multinasional. Dalam waktu 12 bulan, ia akan menyarankan hal tersebut secara global.


Menurut perempuan yang lahir di New South Wales ini, begitu banyak perusahaan yang meraup keuntungan dengan begitu besar namun memberikan upah yang begitu rendah kepada para buruh.

"Hal itu sangat tidak bisa diterima. Dengan kondisi seperti itu, para tenaga kerja menjadi korban pengeksploitasian korporasi," kata dia menegaskan. 

Rendahnya upah kerja, tidak baiknya jaminan kesehatan yang diberikan dan tidak jelasnya dana pensiun menjadi hal yang selama ini diserukan para buruh. Namun, Sharan mengatakan hal tersebut hanya bagian dasar. Yang menjadi bagian terpenting adalah bagaimana memberikan perlakuan yang bermartabat bagi para buruh. 

No comments:

Post a Comment